Berita
1 Maret 2017

BP2LHK Aek Nauli Rencana Kembangkan Desa Model IAAS di Kab. Pakpak Barat

BP2LHK Aek Nauli (Pakpak Barat, 22/02/2017)_Dalam rangka meningkatkan perekonomian masyarakat di Kabupaten Pakpak Barat-Sumatera Utara, Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli berencana untuk mengembangkan Desa Model Integrated Agroforestry Apiculture System (IAAS), yaitu integrasi budidaya lebah Apis penghasil madu dan Trigona penghasil propolis pada sistem agroforestri.

“Model IAAS ini merupakan pengejawantahan program pemerintahan Presiden Jokowi bahwa pembangunan harus dari pinggiran atau dari kluster terkecil yakni kelompok tani,”kata Pratiara, S.Hut, M.Si., Kepala BP2LHK Aek Nauli (Kabalai) pada saat kunjugan ke Kantor Bupati, Salak, Kabupaten Pakpak Bharat, Senin (02/02).

Mendukung pernyataan Kabalai, Dr. Aswandi, Peneliti Silvikultur di BP2LHK Aek Nauli menyatakan bahwa pengembangan model IAAS di Kab. Pakpak Barat berpotensi untuk optimalisasi pemanfaatan lahan dan penggalian alternatif mata pencaharian masyarakat.

”Potensi resin Kemenyan yang tinggi di Pakpak Bharat dan DTA Danau Toba merupakan peluang bagi pengembangan budidaya lebah Trigona. Hasil kajian menunjukkan kandungan fitofarmaka propolis dari hutan tropika Indonesia tidak kalah dibandingkan luar negeri,”jelas Aswandi.

Disisi lain, Aam Hasanuddin, Teknisi Litkayasa BP2LHK Aek Nauli menyatakan bahwa budidaya lebah Trigona dan Apis yang telah diinisiasinya di Pakpak Bharat sejak tahun 2016 sudah berhasil dan terbukti telah meningkatkan perekonomian masayarakat.

“Jika setiap stup Trigona yang dipelihara menghasilkan sekitar 35 gram propolis dengan periode panen setiap lima hari maka dalam satu bulan akan diperoleh propolis mentah 210 g/stup dengan harga Rp 200 ribu/kg. Jika setiap petani memelihara 20-30 stup maka setiap bulan akan diperoleh pendapatan Rp 800 ribu hingga 1,2 juta. Belum dari dari budidaya lebah Apis yang dapat menghasilkan madu hingga 1 kg/ frame pada saat puncak musim bunga,”kata Aam.

Pernyataan ini didukung oleh Para petani lebah madu binaan Aam dan Badan Penyuluh yang juga hadir. Bahkan mereka menunjukkan produk madu lebah hasil budidayanya ke Bupati dan menyatakan bahwa pemasaran produknya telah sampai ke luar daerah.

Mendengar penjelasan tersebut, Remigo Yolando Berutu, SE, MBA., Bupati Pakpak Barat siap dan mendukung program BP2LHK Aek Nauli tersebut. Bahkan Remigo langsung menugaskan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan untuk segera menjalin kerjasama dengan BP2LHK Aek Nauli dan mendorong pelibatan instansi terkait lainnya seperti Disperindag dalam pengelolaan pengemasan dan pemasaran produk berbasis madu dan propolis.

“Saya siap mendukung setiap upaya yang bertujuan untuk menggali potensi daerah untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Apalagi jika sumberdaya yang ingin dikembangkan tersebut betul-betul khas dari Pakpak Bharat seperti lebah madu dan propolis kemenyan,”kata Remigo.

“Program yang secara nyata akan menggerakan perekonomian masyarakat dan sekaligus memulihkan fungsi ekosistem Danau Toba ini akan dibiayai baik dari anggaran daerah, berbagai skema hibah maupun dari kantong pribadi,” tambah Remigo.

Namun, Remigo menyarankan bahwa program yang akan dijalankan dimulai dari kelompok-kelompok tani yang telah mapan  atau berhasil sehingga penyebarluasan program memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi.

Ismed Syahbani, S.Hut, Kepala Seksi Data, Informasi dan Kerjasama BP2LHK Aek Nauli, berharap agar produk white propolis dari resin kemenyan dapat menjadi brand budidaya Trigona di Pakpak Bharat.

“Potensi sumber pakan yang melimpah, teknik budidaya yang tidak rumit, harga jual dan permintaan yang tinggi merupakan kekuatan dan peluang bagi pengembangan budidaya lebah madu dan propolis dalam upaya pengentasan kemiskinan masyarakat dan pelestarian sumberdaya hutan dan lingkungan,”kata Ismed.

Sumber : (http://www.forda-mof.org/berita/post/3461)